Proses pengkambinghitaman korban telah menjadi masalah biasa. Namun, cara berpikir seperti ini harus dipatahkan. Sebagai contoh kasus Ahok, dan kasus santet. “Dalam kasus ini orang yang tidak bersalah bisa dikambinghitamkan,” jelas Prof. Pdt. Emanuel Gerrit Singgih, PhD., pada Bedah Bukunya “Korban dan Pendamaian” di ruang pertemuan BPK Gunung Mulia, Jakarta (4/6). Bedah buku yang merupakan rangkaian HUT ke-68 PGI tersebut diadakan oleh Humas PGI, BPK Gunung Mulia, dan GPIB Paulus. Penanggap pada acara bedah buku tersebut adalah Ketua Umum PGI Pdt. Dr. Henriette Hutabarat-Lebang, mantan Ketua Komnas HAM Imdadun Rahmat dan Anggota DPD RI Djasarmen Purba, S.H.

Prof. Pdt. Gerrit Singgih PhD (tengah berbicara) diapit dari kiri ke kanan Djasarmen Purba, SH, Imdadun Rahmat, Jeirry Sumampow dan Pdt. Dr. Henriette Hutabarat Lebang.

Pada kesempatan itu, Prof. Pdt. Emanuel Gerrit Singgih, PhD mengatakan bahwa Korban dan Pendamaian merupakan mata kuliah lintas bidang ilmu teologi, yang diperlukan dalam berteologi kontekstual di Indonesia, yang seringkali mewarisi fragmentasi berteologi dari dunia Barat. “Di samping mata kuliah yang mewakili bidang-bidang teologi, mahasiswa perlu juga diberikan mata kuliah yang bersifat integral,” jelasnya.

Diakui Singgih mengenai tema ”Korban dan Pendamaian” merupakan hal yang rumit, karena sudah menjadi perdebatan sejak lama. “Sampai sekarang pun, tema ”Korban dan Pendamaian” masih ramai dibicarakan, apalagi jika kekerasan itu dalam selubung agama,” tuturnya.

Korban merupakan upaya manusia untuk menghadapi kemungkinan ancaman dari kekuatan-kekuatan yang berada di luar kendalinya. Di era modern, manusia merasa bahwa segala sesuatu telah dikuasai dan dikendalikannya. Di era posmodern, begitu banyak kegagalan-kegagalan yang dialami oleh manusia untuk menguasai alam. Upaya menciptakan masyarakat sejahtera yang terus-menerus dirongrong dan dihantui oleh bahaya peperangan dan terorisme. Semuanya itu setidaknya menyadarkan manusia bahwa ada tantangan-tantangan terhadap kehidupan manusia.

Menelaah mengenai korban dalam bidang Perjanjian Lama, bisa ditemui bahwa uraian mengenai korban biasanya dimulai dengan definisi yang amat sederhana, yaitu bahwa korban adalah doa yang diperagakan. Pengungkapan teori-teori dalam buku Korban dan Pendamaian berfungsi untuk memberi imajinasi atau gambaran mengenai korban, bukan untuk menentukan salah-benarnya pemahaman mengenai korban.

“Saya membahas tema ini dari sudut Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, Sejarah Gereja, teologi sistematik, dan teologi kontekstual. Pembahasan tema ini tidak bisa tidak harus bersinggungan juga dengan tema serupa di agama Islam, agama Yahudi, agama-agama purba, filsafat, antropolgi dan sastra,” jelasnya.

Singgih mengakui, buku yang ditulisnya tersebut tidak termasuk bacaan ringan yang populer. Kaum awam tentu saja dapat membacanya, namun kaum awam yang terpelajar, terlebih mereka yang jebolan fakultas filsafat dan antropologi budaya. Sedangkan sub judul dari buku ini berbicara mengenai tantangan-tantangan terhadap kehidupan yang berada di luar kendali manusia. “Lambat laun atau cepat, kita semua akan menghadapi tantangan-tantangan semacam ini. Mereka yang sudah mengalaminya, mungkin bisa lebih berempati kepada warisan-warisan berupa upacara-upacara korban dan diskursus korban,” ujar Dosen Biblika-Perjanjian Lama di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) ini.

Sementara Ketua Umum PGI Pdt. Dr. Henriette Hutabarat-Lebang, mengungkapkan, dalam konteks masyarakat yang majemuk memang perlu upaya penelusuran terlebih dalam hal agama. Dan, perlunya melihat segala sesuatu dari berbagai sudut pandang agar tidak terjadi pengkambinghitaman.

Terbitnya buku ini mendapat apresiasi oleh mantan Ketua Komnas HAM Imdadun Rahmat, karena sebagai literasi yang menolong kita untuk memahami terkait korban dan pendamaian. Menurutnya, pengorbanan menjadi syarat penting bagi penegakkan Hak Asasi Manusia (HAM).

Sementara Djasarmen Purba, SH., yang juga ketua Majelis Umat Kristiani Indonesia mengakui penting dan berartinya buku tersebut untuk menuntun umat Kristen. Ia yang menyorot dari sudut pandang praktis yakin konflik horizontal bisa diminimalisir dengan penghayatan akan buku tersebut. “Saya borong buku ini untuk saya bagikan kepada kawan-kawan, supaya bisa dihayati lebih mendalam,” tandasnya.

*Sumber : Majalah Inspirasi vol 97 Agustus – September 2018