Sejarah

Selama lebih dari 70 tahun, BPK Gunung Mulia terus melayani kebutuhan gereja dan umat Kristen melalui literatur.

Cikal Bakal BPK Gunung Mulia

Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, semangat untuk mewartakan Injil Kerajaan Allah juga ikut menjiwai semangat kebangsaan Indonesia. Untuk itulah kemudian dibentuk Badan Penerbit Darurat dari Gereja dan Pekabaran Injil (Noodleectuurcommissie van Kerk’en Zending) pada Oktober 1946. Tujuannya adalah melayani gereja dan umat Kristen di seluruh Indonesia untuk menyediakan buku-buku Kristen berbahasa Indonesia.

Ini adalah wujud upaya kesatuan gereja-gereja Indonesia yang dipelopori oleh Dr. J. Verkuyl (utusan Injil dari Gereja Gereformeerd) bersama sejumlah tokoh Zending dan Gereja Protestan di Indonesia, Zending dan Gereja Gereformeerd, Young Men’s Christian Association (YMCA), Bond voor Evangelisatie (Ikatan Penginjilan, yang dipimpin Jan. C. Hoekendijk, dan sejumlah tokoh Kristen seperti, dr. J. Leimena, Mr. A. M. Tambunan, Pdtr. B. Probowinto, dan Pdt. J. Rumambi.

Pada tahun 1950, Badan Penerbit Darurat menjadi organ resmi Dewan Gereja Indonesia (DGI) dengan nama BADAN PENERBIT KRISTEN. Ketuanya adalah Pdt. C. C. Kainama, Sekretaris J. Verkuyl, dan Bendahara Wim A.E.Z Makaliwy. Kemudian pada Desember 1949/Januari 1950 dibentuk Yayasan Badan Penerbit Kristen dan pada 31 Agustus 1951 menjadi organisasi berbadan hukum (AD Yay BPK GM, psl 2). Kalangan BPK “berani” menentukan tanggal lahirnya pada 31 Oktober , agaknya mengacu pada hari Reformasi.

Sebagai bagian dari DGI, BPK memiliki tiga tugas utama:

  • Meningkatkan produksi literatur Kristen dalam bahasa Indonesia
  • Memublikasikan bacaan-bacaan Kristen
  • Mendistribusikan literatur-literatur Kristen
Johannes Verkuyl
Johannes Verkuyl

Dari mana nama 
Gunung Mulia berasal?

Todung Sutan Gunung Mulia adalah bekas menteri kebudayaan Indonesia (14 November 1945–2 Oktober 1946) dan ketua DGI (sekarang PGI) yang pertama.

Ia memiliki andil besar dalam mengembangkan BPK. Karena itulah, pada tahun 1971 namanya dipakai oleh BPK , yang telah menjadi badan yang berdiri sendiri dari DGI, sehingga BPK berganti nama menjadi Badan Penerbit Kristen Gunung Mulia.

Penerbitan Awal

Pada mulanya, BPK hanya dapat menerbitkan 25 buku per tahun, yang sebagian besar dalam bentuk buklet mini. Baru setelah dekade 1960-an, mulai ada peningkatan dalam jumlah maupun kualitas buku yang diterbitkan. Hasilnya adalah penerbitan 17 kategori dan serial, beberapa di antaranya adalah tafsiran terhadap Alkitab, buku dogma dan etika, sejarah gereja, homiletika, serta menerjemahkan literatur yang berasal dari Dewan Gereja se-Dunia.

Awalnya, sebagian besar buku yang diterbitkan ditulis oleh orang-orang Eropa atau merupakan buku-buku terjemahan. Kemudian, seiring berjalannya waktu, muncullah nama-nama teolog Indonesia yang tulisannya diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia, seperti J.L.Ch. Abineno, O. Notohamidjojo, R. Soedarmo, W.B. Sidjabat, T.B. Simatupang, Eka Darmaputera, dan Andar Ismail.

Melihat perkembangan dan konteks Indonesia, BPK Gunung Mulia mulai menerbitkan buku dengan beberapa fokus utama:

  1. meningkatkan relasi antaragama;
  2. mengantisipasi kekerasan;
  3. memberi perhatian pada isu gender;
  4. melihat hubungan agama dan ilmu pengetahuan.

Tujuan dari penerbitan buku-buku tersebut adalah membantu gereja-gereja Indonesia dalam mengelola isu-isu tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Info lebih detail, silahkan hubungi kami