Judul                        : Religiositas Tyarka

Subjudul                   : Dan Pembentukan Karakter Masyarakat di Desa Lawawang

Penulis                      : Jerry Rumahlatu

Penerbit                    : BPK Gunung Mulia

ISBN                         : 978-602-231-477-6

KATA PENGANTAR

BAB I          PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang Masalah

1.2.     Tinjauan Pustaka

1.3.     Tinjauan Teori

  1. Kebudayaan dan Religiositas
  2. Ritus
  3. Simbol
  4. Nyanyian Tradisional
  5. Nilai-Nilai Budaya
  6. Pendidikan Karakter
  7. Pentingnya Bahasa sebagai Simbol Karakter

Masyarakat Berbudaya

1.4.     Metode Penelitian

  1. Tipe Penelitian
  2. Teknik Pengumpulan Data
  3. Teknik Analisis Data

BAB II        POTRET LAWAWANG, NEGERI PEMELIHARA

KEYAKINAN TYARKA

2.1.     Konteks Umum

2.2.    Kehidupan Masyarakat Adat

2.3.    Kondisi Geografis

2.4.    Kondisi Demografi

2.5.    Kondisi Sosial

  1. Keadaan Sosial Masyarakat Menurut Tingkat

Pendidikan

  1. Sistem Mata Pencarian
  2. Agama
  3. Kesehatan

2.6.    Aspek Budaya

  1. Sistem Kekerabatan

2.7.    Sistem Nekora (Gotong Royong)

2.8.    Sistem Neyolya (Pertukaran Barang)

2.9.    Sistem Kewrakola (Pembagian Beban Kerja)

2.10.   Sistem Kepercayaan sebelum Memeluk Agama

  1. Manusia sebagai Makhluk Sosial
  2. Interaksi Sosial dan Sosialisasi
  3. Sistem Kepercayaan (Religiositas)

BAB III       RELIGIOSITAS TYARKA

3.1.     Pengantar

3.2.    Hakikat Tyarka

3.3.    Jenis dan Fungsi Tyarka

3.4.    Tyarka sebagai Doa Adat

3.5     Tyarka Penyambutan

  1. Tyarka Penyambutan Tamu
  2. Tyarka Penyambutan Mempelai
  3. Tyarka Penyambutan untuk Pembukaan Tari

Seka

3.6     Tyarka sebagai Nasihat

3.7     Tyarka dalam Acara Perayaan Keagamaan

(Syukur Baptisan, Natal, Tahun Baru dan Paskah)

3.8.    Tyarka sebagai Sistem Religi Masyarakat

Lawawang

3.9.    Nilai-nilai Religiositas Tyarka

3.10.   Tyarka sebagai Tindakan Religiositas

3.11.    Tyarka Sebagai Komunikasi Kultural Orang

Lawawang

BAB IV       TYARKA DAN PEMBENTUKAN KARAKTER

MASYARAKAT

4.1.     Konsepsi tentang Hubungan antara Manusia

dengan Tuhan

4.2.    Tyarka sebagai Bentuk Pendidikan Karakter

4.3.    Agama dan Pendidikan Karakter

4.4.    Peran Agama dalam Pembentukan Karakter

BAB IV       KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

Isi Buku

A. Maksud dan Tujuan Buku

Buku ini mengupas Tyarka, yaitu nyanyian adat berupa doa, ikrar sumpah maupun penghormatan yang menjadi bagian dari budaya masyarakat Lawawang, Maluku. Tyarka adalah budaya yang sudah melekat dalam masyarakat secara turun-temurun sejak dahulu. Dengan begitu, ini sudah terkonsep dalam kehidupan masyarakat menjadi sebuah kepercayaan terhadap hal-hal yang berhubungan dengan sebuah keyakinan, sehingga sulit untuk dihilangkan.

       Tyarka adalah budaya masyarakat yang di dalamnya terdapat makna religiositas yang menghubungkan masyarakat dengan Tuhan maupun para leluhur. Oleh karena itu, meneliti tyarka perlu mengaitkannya dengan kepercayaan tempat asal mula nyanyian itu berasal. Walaupun bentuk nyanyian tidak banyak berubah, tetapi sangat mung­kin makna nyanyian tersebut sudah berubah bagi masyarakat di mana nyanyian itu sekarang ini hidup.

Bagi penulis, meneliti budaya di suatu tempat dan menemukan warisan budaya masa lampau akan membawa ke arah kesadaran akan adanya kearifan tertentu dalam masyarakat tertentu. Kesadaran ini akan membuat orang bisa lebih menghargai budaya suatu tempat.

 

 

B. Ringkasan Isi Buku

Buku ini terdiri dari 10 Bab, di luar Pengantar dan Penutup, diakhiri dengan Daftar Pustaka dan biodata penulis

Dalam Bab 1, penulis memaparkan apa yang ingin diutarakan dalam buku ini, terutama pentingnya masalah kepemimpinan serta tujuan yang ingin dicapai oleh buku ini.

Bab 2 memaparkan ruang lingkup psikologi sendiri. Bab ini sengaja dimasukkan supaya pembaca yang tidak terlalu memahami dunia psikologi bisa mengenalnya secara lebih baik dan bisa memahami bagian-bagian selanjutnya.

Bab 3 dan 4 mendalami tema kepemimpinan. Penulis memaparkan definisi pemimpin dan kepemimpinan, termasuk berbagai teori, tipe, dan konsep kepemimpinan.

Dalam Bab 5, penulis baru mengupas apa itu “Kepemimpinan Kristen”. Ia mengulas bagaimana seharusnya pemimpin Kristen itu, termasuk memaparkan bagaimana kepemimpinan yang diteladankan oleh Yesus sendiri.

Bab 6 dan 7 mengupas tuntas apa itu “kepemimpinan transformative dan visioner”, serta terutama bagaimana pembaca bisa mengaktualisasikannya. Tentu, ia memberikannya dalam sudut pandang seorang Kristen.

Bab 8 sampai Bab 10 mengupas tema yang terkait dengan topik buku ini. Bab 8 membahas tema “Psikologi Kristen”, Bab 9 “Spiritualitas Kristen”, dan Bab 10 “Konseling Kristen”. Ketiga tema itu menjadi pendukung yang kuat bagi topik kepemimpinan. Penulis menjelaskan pemikiran Agustinus dan Thomas Aquinas terkait tema Psikologi Kristen. Kedua tokoh gereja itu dipandang memberikan pandangan berharga mengenai manusia. Sementara itu, Penulis memaparkan bagaimana tokoh Nehemia dan Ezra menjadi sumber spiritualitas Kristen dalam Bab 9. Keduanya dinilai memberikan inspirasi bagi kepemimpinan Kristen.

Dalam Penutup, Penulis memberikan daftar pertanyaan sebagai bahan diskusi. Setiap pertanyaan dimasukkan dalam Bab-Bab yang sesuai dengan pertanyaan tersebut. Tentu, di Penutup ini, Penulis juga memberikan kesimpulannya.

Teks Backcover

Manusia memiliki keunikan karena faktor bawaannya, juga memiliki caranya sendiri dalam berinteraksi dengan sesama dan lingkungannya, serta selalu ingin menciptakan perubahan. Ya, manusia merupakan kenyataan yang begitu kompleks sekaligus begitu rumit. Buku ini meyakini bahwa ada kolerasi yang kuat antara psikologi dan kepemimpinan. Dengan memahami ilmu psikologi, seorang pemimpin akan dapat melaksanakan tugas kepemimpinannya dengan efektif dan dapat mengembangkan kepemimpinannya itu.

Tak cukup sampai di situ, seorang pemimpin Kristen harus pula ambil bagian menyelesaikan berbagai masalah, seperti moralitas, pendidikan, ekonomi, juga krisis kepemimpinan. Itulah sebabnya, pemimpin Kristen perlu menguasai dan menerapkan dengan tepat model kepemimpinan yang melayani, seperti yang diajarkan Yesus. Semakin dekat dan dalam hubungan seseorang dengan Yesus, semakin tinggilah spiritualnya. Semakin tinggi spiritualnya, ia akan semakin bijak dan arif dalam berperilaku, semakin mahir mengelola emosinya, dan hidupnya akan semakin bermakna bagi sesama. Sebagai pemimpin, ia harus juga menjadi konselor yang baik bagi pengikutnya. Konseling adalah salah satu cara efektif untuk mengatasi permasalahan dan perbedaan dalam organisasi.Buku ini dapat menjadi bekal bagi para pemimpin dan calon pemimpin untuk menjadi pribadi yang unggul, berkualitas tinggi, dan menjadi pelopor dalam perubahan positif, sebagaimana diteladankan oleh Yesus sendiri.

Tentang Penulis 

Drs. Jerry Rumahlatu, D.Th menempuh pendidikan tinggi di STIAN Ujung Pandang dan memperoleh gelar Sarjana Muda Akuntansi tahun 1985 dan Sarjana Pajak Umum. melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Teologia Jaffray Makasar dan memperoleh gelar Bachelor Theological Studies (BTS) dan sampai tingkat Sarjana Theologia (S.Th) di Sekolah Tinggi Teologia Jaffray cabang Jakarta. Tahun 1992, meraih gelar MA dari IFTKJ Jakarta dan Doctor of Theology (D.Th) dari Institut yang sama. Ia pernah menjabat sebagai Ketua/Rektor STT Jaffray Jakarta. Ia menjabat Sekretaris Umum Tim Koordinasi Penjaminan Mutu Perguruan Teologi/Agama Kristen Bimas Kristen Kementerian Agama.