Judul                                                     :  Teologi Patita

Subjudul                                              :   Menggali Nilai Simbolik Makan Patita Adat di Oma dan Mendialogkannya dengan Jamuan Makan Bersama dalam Injil Lukas 22

Penulis                                                 : Febby Nancy Patty

No. ISBN                                              : 978-602-231-488-2

Ukuran                                                 : 14,5 x 21 cm

Tebal                                                     : xx + 253 (273 hlm)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

1.2. Pendasaran Konsep

BAB II EKSISTENSI MASYARAKAT MALUKU (OMA)

2.1. Oma dalam Konteks Ke-Maluku-an

2.2. Oma dalam Konteks Lokal

BAB III MAKAN PATITA ADAT DAN MAKNANYA DALAM KONTEKS PERUBAHAN SOSIAL KEMASYARAKATAN SERTA DAMPAKNYA

3.1. Tradisi Makan Patita

3.2. Tradisi Makan Patita Adat dan Maknanya

3.3. Analisis terhadap Ritual Makan Patita Adat (Sosio-Antropologi)

3.4. Makan Patita Adat dan Konstruksi Identitas

3.5. Dampak Makan Patita Adat bagi Masyarakat

BAB IV TRADISI JAMUAN MAKAN BERSAMA DALAM INJIL LUKAS 22

4.1. Sekilas tentang Jamuan Makan Bersama dalam Injil Lukas

4.2. Problematika di Seputar Penafsiran Jamuan Makan Bersama (Lukas 22)

4.3. Jamuan Makan Bersama dalam Setting Sosial Kultural

4.4. Analisis Sosial terhadap Jamuan Makan Bersama (Lukas 22:7–38)

4.5. Jamuan makan Bersama sebagai Sebuah Tradisi

4.6. Gereja sebagai Institusi Religius dan Perannya  (Agency)

4.7. Legitimasi Makna Simbol

4.8. Jamuan Makan Bersama sebagai Kontruksi Identitas

BAB V KONTEKSTUALISASI TEOLOGI

5.1. Artikulasi Nilai dari Praktik Jamuan Makan Bersama dan Makan Patita Adat

5.2. Aspek Biografi

5.3. Dialog Dua Konteks

5.4. Teologi Patita: Terlahir dari Local Wisdom Masyarakat Maluku/Oma

BAB VI PENUTUP

6.1. Signifikansi Pendekatan Sosial dalam Proses Hermeneutik (Teologi)

6.2. Temuan Penelitian

6.3. Rekomendasi

DAFTAR PUSTAKA

TENTANG PENULIS 

Isi Buku

A. Maksud dan Tujuan Buku

Buku ini diolah dari disertasi penulis sebagai anggota masyarakat Maluku—khususnya di daerah Oma, Maluku Tengah—yang hidup dengan tradisi Makan Patita (Makan Patita Adat). Ia melihat tradisi itu mirip dengan tradisi makan bersama oleh masyarakat Yahudi yang juga diikuti oleh Yesus dan murid-murid-Nya. Mengacu dari konteks dan pengalaman tersebut, penulis berupaya menggali makna simbolik dari tradisi tersebut dan mendialogkannya secara kritis dengan tradisi Alkitab, dalam Injil Lukas (Lukas bab 22).

Berdasarkan latar belakang tradisi tersebut berikut makna dan manfaatnya, penulis bertujuan menghasilkan sebuah pemikiran teologi yang kontekstual; yang mengacu pada local wisdom orang-orang Maluku. Penulis ingin membuktikan, bagaimana makna sosio-antropologis dari simbol-simbol jamuan makan bersama dalam Lukas 22:7–38, dan apakah sesungguhnya situasi sosial yang melatari sehingga Lukas menggunakan simbol-simbol tersebut, dan apakah maknanya bagi komunitas/gereja.

B. Ringkasan Isi Buku

Dalam buku ini penulis secara lengkap mengungkap latar belakang tradisi jamuan makan bersama (Makan Patita Adat) yang dilakukan masyarakat Maluku, khususnya yang tinggal di Negeri/Desa Oma, Maluku Tengah. Dalam ritual adat ini terkandung nilai-nilai simbolik yang bermakna dalam. Jamuan makan patita biasanya disiapkan oleh “Om-Om” (dan istrinya, “Mui-Mui”) sebagai tanda kepedulian dan perhatian terhadap saudara-saudara perempuan dan anak-anak mereka. Dalam ritual ini, Om-Om menghidangkan berbagai jenis makanan untuk para sepupu perempuan dan keponakan mereka yang dimakan bersama-sama.

Makan patita adat di Oma memiliki ”keunikan” dan ”karakteristik” yakni: pertama, merupakan sebuah tradisi yang diwariskan secara turun-temurun; kedua, dianggap sebagai ”sakral” atau ”suci”; ketiga, dilakukan oleh masing-masing Soa dan keempat, mengandung simbol-simbol yang bermakna bagi komunitasnya. Di sinilah letak keunikan dan karakteristik dari makan patita adat di Oma yang membedakannya dengan praktik makan patita lainnya. Karakteristik tersebut terungkap melalui simbol atau tindakan simbolik yang bermakna. Simbol-simbol tersebut, yakni doa (passawari adat), waktu dan tempat sakral, aneka busana (tokoh), aneka makanan, duduk bersama di meja, tari-tarian adat (maraila) dan petuah/kapata.

Penulis kemudian menelusuri kemiripan tradisi jamuan makan bersama ini dengan tradisi Yesus dalam Injil Lukas. Kemiripan tersebut terungkap dalam beberapa hal, yakni: 1) diawali dengan persiapan; 2) tidak terjadi secara tiba-tiba (ada peristiwa yang melatarbelakangi pelaksanaan jamuan tersebut); 3) ada inisiatif atau peran dari tokoh tertentu (tokoh Yesus dalam tradisi Lukas dan tokoh Om­Om dalam tradisi patita adat) yang juga melibatkan tokoh lainnya; 4) berfokus pada tradisi meja makan dan peran dari orangtua (pemimpin); 5) ada kata-kata perpisahan yang disampaikan (kata-kata perpisahan Yesus di meja makan dan kata-kata perpisahan Om­Om dalam bentuk maraila).

Sekalipun mirip, kedua tradisi jamuan makan bersama tersebut lahir dari konteks masing-masing, yakni gereja perdana dan masyarakat Maluku (Oma) dengan problematika sosialnya. Dengan kemiripan yang dimiliki satu dengan yang lainnya itu maka pengalaman masyarakat Maluku akan dijadikan sebagai perspektif dalam memahami makna teks Lukas 22. Hal ini bertujuan untuk mengungkapkan nilai teologis yang terkandung dalam jamuan makan bersama.

Menurut penulis, keunikan dan karakter dari jamuan makan bersama dalam Lukas adalah formal (Yesus sebagai tuan rumah mengundang para rasul dan jamuan sudah dipersiapkan sebelumnya, saat makan tidak bisa bebas bicara, berbeda dari acara makan sehari-hari); tradisional (menurut tradisi Simposium Hellenistik: dilakukan oleh orang berstatus sosial tinggi di Yunani, ada menu hidangan, ada daftar undangan), invarian (selama makan ada tindakan bervariasi), pengulangan (kata-kata dan tindakan seperti: makan, duduk makan,

makan bersama, meja makan, roti, anggur, mengambil, memecahkan, berbagi, mengucap syukur dan lainnya dimunculkan secara berulang-ulang); suci (sakral), dan bersifat dramatis (segala yang dilakukan dari awal sampai akhir bagaikan sebuah kisah dramatis yang bertujuan untuk mempertunjukkan makna, termasuk cara pandang yang hendak disampaikan oleh para pelaku ritual dimaksud).

Lukas (mewakili komunitasnya) sebagai seorang Kristen terpandang dan berlatar belakang Yunani, adalah seorang yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat dan gereja pada saat itu. Namun, ia merasa terpanggil untuk menggumuli situasi yang dialami oleh komunitasnya. Ia juga memiliki keprihatinan mendalam terhadap krisis yang dialami. Rasa tersebut salah satunya mewujud dalam upaya menafsir kembali tradisi makan bersama, sehingga bermakna bagi komunitasnya. Lukas menggunakan tradisi makan bersama sebagai wahana untuk menyampaikan visi sosio-teologisnya bagi kehidupan gereja (umat dan pemimpin).

Tradisi Makan Patita mengandung nilai-nilai yang mengacu dari pengalaman masyarakat tentang dunianya. Nilai-nilai tersebut di antaranya ucapan syukur, nilai sukacita, kegembiraan dan kesenangan, persekutuan dan kebersamaan, solidaritas, nilai mengingat (mengenang), nilai-nilai kepemimpinan (etika dan moral) berupa kasih, bijaksana, rendah

hati, peduli, setia dan bertanggung jawab. Selanjutnya, ada juga nilai pengorbanan (persembahan) yang terekspresikan melalui pemberian yang terbaik (berkualitas), utuh dan tanpa pamrih; nilai kerja keras, di siplin, sikap taat/patuh. Selain itu ada juga nilai keadilan dan kesetaraan, nilai kekeluargaan (saling membantu dan menolong), nilai hos-

pitalitas, nilai perdamaian (rekonsiliasi), nilai hidup yang berbagi, nilai edukatif, nilai perjuangan, dan nilai lingkungan (ekologi). Nilai-nilai tersebut juga menonjol dalam praktik makan bersama dalam tradisi masa lalu (Alkitab).

Secara khusus jamuan makan bersama (Lukas 22) mengandung nilai ucapan syukur, mengingat/mengenang, persekutuan dan kebersamaan, persaudaraan, kekeluargaan, solidaritas, nilai-nilai kepemimpinan, kasih, ketaatan, kerja sama, saling menolong, perhatian, peduli dan bela rasa, pelayanan, rendah hati, setia, bertanggung jawab, pengorbanan, tanpa pamrih, nilai kepatuhan, kekeluargaan (saling membantu dan menolong), nilai keramahtamahan, status sosial, kesamaan (equality), kesetaraan, nilai keadilan, nilai perdamaian (rekonsiliasi), nilai kehidupan (berbagi hidup), nilai pendidikan kristiani, nilai perjuangan, dan nilai alam.

Pada akhir bab, penulis membuat kesimpulan yang dibagi atas tiga bagian, yakni signifikansi pendekatan sosial dalam proses hermeneutik bagi ilmu teologi, temuan penelitian, dan rekomendasi. Proses hermeneutik dengan menggunakan pendekatan lintas ilmu (studi sosial), membuat teks-teks keagamaan yang selama ini ditafsir dengan menggunakan pendekatan historis dapat dieksplor secara lebih mendalam dan terbuka. Pendekatan ini dilakukan secara sosio-antropologi untuk menafsir dan mengeksplorasi teks.

Akhirnya, dari  proses  dialogis kritis terhadap kedua tradisi, jamuan makan bersama menghasilkan visi teologis dari teologi makan bersama “Teologi Patita” (Theology of Patita). Visi teologis tersebut mencakup tiga hal, yakni visi tentang kehidupan, persaudaraan, dan tata harmoni.

Dalam bab terakhir tersebut, penulis juga memaparkan kesimpulan temuan penelitian (bahwa tradisi makan bersama di kedua konteks mengandung multimakna seperti nilai kebersamaan, berbagi, keadilan sosial, berbela rasa, dsb. Penulis juga memberikan rekomendasi yang berguna, antara lain: 1) Bagi lembaga pendidikan tinggi: hendaknya terbuka terhadap pengembangan ilmu teologi. 2) Bagi gereja: hendaknya gereja berbenah diri, sadar konteks, bertransformasi, menumbuhkan tradisi meja makan. 3) Bagi pemerintah, hendaknya menjadi laboratorium perdamaian.

Keunggulan Buku

Buku ini tidak hanya memperkenalkan tradisi makan patita adat kepada masyarakat luas, tetapi juga mengajak pembaca mendalami pesan Yesus dalam tradisi makan bersama (Perjamuan Terakhir) yang dilakukan-Nya, dan apa manfaat yang bisa kita petik demi perbaikan kehidupan masyarakat dan perdamaian bangsa.

Tentang Penulis

Febby Nancy Patty, Lahir di Ambon, tanggal 6 Februari 1971. Menyelesaikan studi Strata Satu pada Fakultas Teologi Filsafat Agama Universitas Kristen Indonesia Maluku tahun 1994, kemudian melanjutkan studi di Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta, Program Studi Teologi Biblika dan meraih gelar Magister Theologiae (M.Th.) tahun 2006. Pada bulan September 2011, melanjutkan studi pada jenjang Doktoral di Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta dan menyelesaikan studinya pada Februari 2016 dengan meraih gelar Doktor Teologi.Sejak tahun 2001, ia menjadi dosen pada Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Ambon (STAKPN Ambon). Selain menjadi dosen, ia pernah juga menjadi Ketua Jurusan dan Sekretaris Jurusan Teologi, Tenaga Assessor Guru Pendidikan Agama Kristen dan Assessor BKD Dosen. Saat ini ia menjabat sebagai Ketua Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) STAKPN Ambon.