Salah satu kelebihan Pdt. Em. Weinata Sairin (biasa kami panggil “Pak Wein”) adalah pandai mengolah kata menjadi kalimat bermakna, dan mengritisi semua teks kata-perkata, bahkan sampai masuk ke dalam satuan huruf serta tanda baca di setiap tulisan yang dibacanya. Ibarat penggemar kuliner, Pak Wein tidak hanya mampu mendeskripsikan rasa makanan, tetapi juga menyebutkan semua jenis bumbu yang terkandung di dalam masakan tersebut: bawang bombai, ketumbar, lada, cabai, garam, kecap asin, kecap manis, dan bahkan sampai andalimanpun bisa terdeteksi. Detail dan akurat.

Didampingi Direktur BPK Gunung Mulia Meyritha, Pdt. Weinata Sairin melaunching dua buku terbarunya

Menyambut peluncuran buku 70 Tahun Weinata Sairin, Merayakan Kehidupan Dituntun Tangan Tuhan.

Di bidang mengolah kata menjadi tulisan, tidak terhitung berapa banyak artikel yang sudah ditulisnya. Hampir setiap hari saya menerima kiriman artikelnya via jaringan whatsapp grup maupun “japri”. Kajian dalam tulisannya begitu luas yang secara umum selalu membahas soal kualitas hidup dan kemanusiaan. Produktivitas dalam menulis sudah teruji dan jauh mengalahkan penulis-penulis lain yang lebih muda. Termasuk saya tentunya. Produktivitas saya dalam hal menulis paling hanya 3 artikel pendek dalam satu minggu. Itupun artikel yang langsung berhubungan dengan pekerjaan yang saya geluti. Pak Wein bisa dalam satu hari mengirim dua artikel yang dua kali lebih panjang dari artikel saya dan (hebatnya lagi) topiknya bisa beraneka.

“Pak Wein itu kapan tidurnya?” tanya Pdt. Dr. IP Lambe, Ketum LAI sehubungan dengan seringnya Pak Wein mengirimi artikel, gambar, berita dan video-video ke WA Grup. Untuk menulis artikel saja sudah membutuhkan waktu khusus, apalagi ditambah dengan semangatnya yang selalu membagikan berbagai informasi lain via WA.

Buku-buku yang sudah diterbitkan tidak sedikit. Ini membuktikan Pak Wein memang sangat produktif di bidang mengolah kata-kata. Kelebihan Pak Wein di bidang ini sungguh sangat menginspirasi generasi yang lebih muda untuk mengikuti jejaknya.Di bidang koreksi teks kata-kata, tidak terhitung berapa kali Pak Wein mengoreksi salah ketik (typo) dan salah pilih kata-kata dalam tulisan-tulisan yang sering saya viralkan. Jujur saja terkadang saya harus menyiapkan mental khusus dalam menghadapi “koreksi detail” yang Pak Wein berikan. Untuk itu saya sering membaca beberapa kali dulu artikel yang akan saya viralkan. Meski demikian masih ada saja yang ditemukan salah ketiknya. Ini bisa karena soal kacamata atau memang usia saya.

Koreksi kata-kata jelas sangat penting. Saya teringat saat masih aktif kuliah di Yogyakarta pada tahun 1980-an akhir. Satu saat saya mengikuti kebaktian minggu yang dipimpin oleh Pendeta Belanda yang belum lama tinggal di Indonesia. Dalam satu doanya, dengan lafal “bule” dan sedikit terbata-bata, dia mengucapkan: “Ya Tuhan….., ampunilah….. doa-doa kami….. dan kabulkanlah….. dosa kami ini. Amin.” Saya dan beberapa teman seusai kebaktian ramai membahas doa tersebut. “Kalau bukan orang bule, pastilah pendeta itu sudah diturunkan dari mimbar,” kata kawan saya, dan kamipun tertawa-tawa.

Dalam konteks pendeta di atas, tentu kami dan semua jemaat, juga Tuhan pasti memakluminya dan tahu maksud yang sebenarnya. Tidak ada kesengajaan, yang ada hanya salah menempatkan huruf “S”, meski sangat fatal akibat maknanya. Dalam dunia tulis menulis nyaris tidak dapat dimaklumi bila terjadi kesalahan ketik dalam suatu kata, apalagi salah pilih kata dalam susunan kalimat. Semua berawal dari kata-kata. Kata-kata bisa sangat digdaya. Bukankah dalam Kitab Kejadian, Tuhan menciptakan alam semesta “hanya” dengan kata-kata?

Di jaman serba digital sekarang, banyak kata-kata hoax yang meresahkan dan sangat membahayakan kehidupan. Dulu sebelum ada fasilitas viralisasi, kesalahan ketik atau kesalahan kalimat bisa segera dihentikan melalui koreksi dan permintaan maaf secara tertulis. Sekarang, meski sudah diklarifikasi, sudah minta maaf, sudah menghentikan “postingan”nya, tetap saja viralisasi tidak bisa dihentikan.

Singkatnya, kelebihan Pak Wein dalam hal koreksi kata-kata ini sungguh sangat vital dan dibutuhkan untuk mencegah berbagai dampak buruk yang bisa terjadi. Semua bermula dari kata-kata telah terbukti benar adanya. Kata-kata bisa menjadi narasi, dan narasi bila mendominasi publik, maka akan memunculkan dampak yang tak terkira. Terpilihnya Presiden Trump di Amerika konon adalah hasil dominasi narasi “ancaman tertentu” sehingga menimbulkan “ketakutan”. Pada akhirnya rakyat Amerika memberikan pilihan kepada Trump karena emosi takutnya, bukan karena rasionalitasnya.

Dua kelebihan Pak Wein yang saya paparkan di atas sangat mendukung pekerjaannya di berbagai tempat, salah satunya di LAI, dimana pada periode 2018-2023 ini saya sebagai Sekretaris Umum dan Pak Wein sebagai salah satu Ketua Pengurus, memiliki tugas yang sungguh sangat berhubungan dengan kata-kata.

Tugas LAI yang pertama adalah menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya ke berbagai bahasa daerah di Indonesia. Setelah berhasil menerjemahkan ke dalam 34 bahasa selama 64 tahun melayani di Indonesia, di tahun 2018 ini LAI mendeteksi setidaknya ada 135 bahasa lain dari 742 bahasa daerah di Indonesia yang masih menunggu antrian untuk mendapatkan terjemahan Alkitab.

Oleh karena LAI dalam menerjemahkan Alkitab selalu setia kepada Bahasa Asli Alkitab (Ibrani, Aram dan Yunani) dan memakai metode yang sangat hati-hati serta detail, maka proses penerjemahannya tidak bisa terburu-buru dan asal cepat saja. Itulah makanya untuk menerjemahkan satu buku Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru LAI membutuhkan setidaknya 20 tahun kerja. Saking lamanya pekerjaan terkadang ada saja anggota penerjemah Alkitab yang keburu dipanggil Tuhan sebelum Alkitab selesai diterjemahkan ke dalam Bahasa daerahnya.

Tugas LAI yang kedua adalah memproduksi Alkitab ke dalam bentuk cetak maupun digital. Tantangan berat bagi LAI saat ini adalah memasuki era digital dimana segala sesuatu dituntut cepat, akurat, mudah digunakan dan serba gratis. LAI harus menjaga agar kata-kata di dalam semua Alkitab dan bagian-bagiannya tetap setia kepada teks asli Bahasa Ibrani, Aram, dan Yunani.

Tugas LAI yang ketiga adalah menyebarkan Alkitab sampai ke seluruh pelosok negeri. Untuk yang berada di kota-kota besar, LAI selalu bermitra dengan para penyalur utama dan toko-toko buku. Untuk menyalurkan ke daerah-daerah terpencil, LAI selalu menggerakkan semua mitra dengan gerakan DWD – Doakanlah, Wartakanlah, dan Donasikanlah demi mewujudkan Alkitab Untuk Semua.

Tugas LAI yang keempat adalah mengupayakan keterbacaan Alkitab. Ada banyak wilayah di Indonesia sesudah menerima Alkitab ternyata banyak yang tidak bisa membaca dengan lancar. Melalui Program Pemberantasan Buta Aksara dan Pendirian Perpustakaan Daerah, LAI aktif mengupayakan keterbacaan Alkitab. Kata-kata berbahasa apa pun di dalam Alkitab tidak akan berdampak positif bila tidak dibaca oleh umat. Dalam rangka itulah LAI pergi ke berbagai daerah untuk mendampingi dan membantu para penduduk yang buta huruf dan lupa huruf (pernah kenal huruf tapi karena lama tidak dipakai akhirnya lupa).

Semua berhubungan dengan kata-kata. Dengan kata-kata, LAI menggerakkan dan mengajak semua mitranya, baik individu anggota jemaat, lembaga Gereja, lembaga keumatan, dan Pemerintah untuk berarak-arakan bersama mewujudkan visi bersama “Alkitab Untuk Semua”.

Pdt. Em Weinata Sairin sudah memasuki usia ke-70 tahun. Semoga tetap melahirkan kata-kata yang diolah menjadi kalimat, menjadi artikel dan akhirnya dapat menjadi narasi publik yang dapat membawa negeri ini menjadi lebih berkualitas, damai, adil dan sejahtera. Selamat ulang tahun Pak Wein. Selamat berbahagia. Tuhan selalu beserta.

Salam Damai Holistik.

Sigit Triyono (Sekum LAI)

*Sumber : Majalah Inspirasi Vol 98 (Oktober – November 2018)