Sejak berhasil menyabet gelar kejuaraan All England 2017 dan 2018, Kevin Sanjaya Sukomuljo/Marcus Fernaldi Gideon semakin populer. Mereka bahkan punya banyak penggemar. Terutama Kevin. Penggemarnya dari kalangan remaja putri cukup banyak. Maklum sampai saat ini status Kevin masih jomblo. Sementara Marcus, sudah naik pelaminan pada April tahun ini.

Wajar jika Kevin dan Marcus punya banyak penggemar. Prestasi mereka yang segudang, memberi inspirasi banyak orang, terutama para remaja. Kevin/Marcus memulai duet di lapangan sejak 2015. Untuk menyatukan kerja sama yang harmonis di lapangan, mereka berusaha saling mengenal karakter satu sama lain.

Sudah pasti awalnya tidak mudah bermain di kategori ganda, sebab harus menyatukan dua karater pemain. Kedua pemain harus saling mengenal. Tetapi hal itu bisa diatasi oleh Kevin/Marcus. Karena mereka sudah membuktikan hal itu.

Menginjak di tahun ketiga, mereka sudah semakin saling mengenal karakter satu sama lain. “Berpartner sudah tiga tahun. Jadi kami sudah tahu satu sama lain. Marcus punya fighting spirit yang bagus. Dia selalu semangat. Dia juga punya smash yang kencang, mematikan. Supaya bisa saling kompak, kami harus terus berlatih,” tutur Kevin, memuji Marcus.

“Kevin punya kelebihan bisa bermain cepat. Refleksnya bagus, dan penempatan bola ke saya juga bagus sehingga saya enak kalau dapat bola dari dia. Dia juga pede (percaya diri) banget. Percaya diri itu penting,” kata Marcus, mengomentari karakter Kevin.

Menurut Marcus, seorang atlet tidak cukup hanya punya kemampuan. Ia juga harus punya kepercayaan diri yang baik. “Pemain punya skill bagus tapi kalau dia tidak punya kepercayaan diri yang baik, maka (permainannya) enggak akan bisa bagus.”

KEMBALI KE NOL

Pasangan Kevin/Marcus dijuluki The Minions oleh para penggemarnya. Itu karena kostum mereka. Kostum mereka yang didominasi warna kuning kerap dipakai saat bertanding. Ya, warna kuning identik dengan Minions. Itulah sebabnya mereka dijuluki The Minions atau Duo Minions.

Selain mendapat julukan The Minions, mereka juga mendapat julukan terbaik dunia untuk cabang bulutangkis. Namun predikat itu tidak membuat mereka sombong. Mereka tetap terlihat rendah hati karena mereka menyadari, kemenangan tersebut hanya berlaku saat berada di podium.

“Setelah turun dari podium, kami bukan sang juara lagi. Kami kembali menjadi nol. Harus berjuang lagi ketika kembali masuk ke lapangan,” demikian komentar Kevin.

Pendapat Marcus pun tidak beda jauh. “Ketika kami mau bertanding, kan dimulai dari babak pertama. Tidak langsung babak final. Jadi setiap turnamen merupakan perjuangan. Berjuang terus,” katanya. Pola pikir itulah yang membuat mereka bisa terus memelihara sikap rendah hati.

SELALU ADA MUKJIZAT

Seperti kebanyakan atlet yang memulai latihannya sejak kecil. Kevin/Marcus juga mulai berlatih sejak kanak-kanak. Waktu itu ia sering diajak ayahnya melihat permainan bulutangkis di belakang rumahnya. Dari melihat, akhirnya ia jatuh cinta pada bulutangkis.

Kevin mulai memegang raket umur 3 tahun. Dan mulai berlatih umur 4 tahun. Sejak kecil Kevin memang sudah bercita-cita menjadi atlet bulutangkis. Karena itu, saat umurnya 11 tahun, ia rela tinggal jauh dari orangtuanya. Ia harus menetap di srama, di Kudus, Jawa Tengah. Sementara orangtuanya tetap menetap di Banyuwangi. “Itu sudah menjadi pilihan saya. Jadi saya harus melakukan itu.”

Sementara Marcus serius berlatih ketika berumur 8 tahun. Dalam seminggu ia berlatih tiga sampai empat kali. “Dulu karena malas sekolah, akhirnya orangtua minta saya untuk memilih bulutangkis atau sekolah. Ya, saya pilih bulutangkis ha..ha..ha…”

Dalam waktu dekat mereka akan maju dalam Kejuaraan Dunia yang digelar pada 30 Juli sampai 5 Agustus 2018 di Cina. Dan Asian Games yang digelar 18 Agustus sampai 2 September 2018. Tentu saja mereka akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Mereka berlatih sesuai yang dijadwalkan. Biasanya, mereka berlatih setiap kecuali Minggu. Tentu saja mereka berharap bisa menang. Mereka bahkan punya mimpi bisa melampaui senior mereka. “Rudi Hartono saja bisa sampai 8 kali juara All England. Kalau bisa kami lebih dari 8 kali,” tukas Marcus seraya tertawa.

“Prinsip saya do the best. Sebisa mungkin melakukan yang maksimal. Dan yang paling saya jaga pastinya kondisi kesehatan, motivasi, dan mental saya. Karena tuntutan (kepada kami) semakin banyak. Jadi kami tidak boleh terbeban,” kata Kevin.

Selain berlatih keras, Kevin dan Marcus tidak lupa menyertakan Tuhan. Sebelum bertanding, keduanya tidak meninggalkan kebiasaan berdoa. Kevin percaya selalu ada mukjizat dalam setiap pertandingannya. Seperti saat Indonesia Open 2018. Kevin/Marcus sudah tertinggal. Tetapi akhirnya mereka bisa menyalip. Dan akhirnya mereka berhasil menyabet juara. “Dari kejadian itu saya belajar, tidak ada yang tidak mungkin kalau Tuhan sudah berkehendak. Jadi mukjizat sangat berperan di setiap pertandingan saya,” imbuh Kevin, usai menerima penghargaan dari Djarum Foundation, senilai Rp 200 juta, Rabu (11/7).

Dari Indonesia Open 2018 Kevin juga belajar untuk lebih bersabar. Pasalnya di ajang itu Kevin mendapat kartu kuning karena protes dengan memberikan jempolnya ke bawah kepada wasit dan lawannya. Sikap itu mendapat sorotan masyarakat luas. Ada yang kecewa. Ada juga yang memaklumi sikapnya itu.

Kevin melakukan itu karena menilai wasit bersikap tidak sportif. Memihak lawan. “Saya biasanya enggak seperti itu. Karena jurinya sudah berlebihan, maka saya jadi seperti itu.” Kevin menyadari, walau kesal, dirinya tetap tidak boleh bersikap seperti itu. Ia pun introspeksi diri dan belajar dari kejadian tersebut. “Manusia belajar dari kesalahan. Kalau kita selalu mendapat hal baik, maka kita tidak akan pernah belajar dari yang buruk. Pastinya saya akan berusaha lebih baik,” janji Kevin.