Di Balik Sebuah Berita, Ada Manusia

Setiap hari, kita berhadapan dengan begitu banyak berita. Kita membaca judulnya, melihat foto atau videonya, atau bahkan membagikannya. Dalam hitungan menit, sebuah peristiwa dapat menjadi pembicaraan banyak orang. Namun, di balik sebuah berita, selalu ada manusia. Ada orang-orang yang mengalami peristiwa tersebut, mereka yang berusaha membantu, keluarga yang menunggu kabar, dan orang-orang yang bekerja untuk mencari jalan keluar yang tidak mudah.

Peristiwa hilangnya lima jurnalis beserta tiga orang lainnya di perairan Selat Sunda  menjadi salah satu pengingat akan hal tersebut. Rombongan tersebut berangkat dari Carita pada 7 September 2026 untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau. Mereka kemudian kehilangan kontak dan hingga hari ini masih dalam pencarian tim SAR.

Ketika Mencari Berita Berarti Menghadapi Risiko

Jurnalisme membawa seseorang untuk hadir di berbagai tempat dan situasi. Dalam kondisi tertentu, pekerjaan tersebut dapat berarti berada di tengah peristiwa yang penuh risiko demi mendapatkan informasi yang dibutuhkan masyarakat.

Peliputan bencana, kecelakaan, konflik, maupun berbagai peristiwa darurat membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menyampaikan informasi. Ada keberanian, tanggung jawab, dan kesiapan untuk menghadapi kondisi yang tidak selalu dapat diprediksi.

Dalam kasus Anak Krakatau, proses pencarian juga memperlihatkan bagaimana banyak pihak bergerak untuk membantu. Tim SAR gabungan melakukan penyisiran di sejumlah wilayah perairan, sementara kondisi cuaca, angin, gelombang, dan aktivitas vulkanik menjadi tantangan tersendiri dalam proses tersebut.

Di tengah semua itu, penting untuk mengingat bahwa yang sedang dicari bukan sekadar nama yang muncul dalam pemberitaan.

Mereka adalah manusia.

Mereka memiliki keluarga, rekan kerja, sahabat, dan orang-orang yang menantikan kabar dari mereka.

Ketika Kepedulian Menjadi Tindakan

Kepedulian sering kali dimulai dari hal sederhana. Melihat seseorang membutuhkan bantuan, mendengarkan, atau sekadar bertanya ”Apa yang bisa saya lakukan?”. Namun, kepedulian tidak berhenti pada rasa khawatir. Kepedulian menjadi berarti ketika diwujudkan dalam tindakan.

Peristiwa hilangnya lima jurnalis dan tiga orang lainnya di perairan Selat Sunda saat melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau mengingatkan kita akan hal tersebut. Hingga hari ini, proses pencarian masih terus dilakukan oleh tim SAR.

Di tengah situasi ini, kita melihat bagaimana kepedulian hadir melalui berbagai tindakan. Ada mereka yang turun langsung melakukan pencarian, ada yang memberikan informasi, dan ada pula yang terus mendoakan serta menantikan kabar baik.

Melihat dan Memedulikan Sesama

Dalam filipi 2:4  kita diingatkan:

Ayat ini mengajak kita untuk tidak berhenti pada apa yang terjadi pada diri sendiri, tetapi juga belajar memperhatikan keadaan orang lain.

Dalam situasi seperti pencarian para jurnalis yang hilang, kepedulian dapat diwujudkan dengan berbagai cara. Kita mungkin tidak dapat terlibat langsung dalam proses pencarian, tetapi kita dapat menghargai proses yang sedang berlangsung, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, dan terus mendoakan mereka serta keluarga yang sedang menantikan kabar.  

📚 Belajar Memanusiakan Manusia

Melihat manusia di balik sebuah peristiwa juga menjadi bagian penting dalam kehidupan bersama. Buku Selamat Memanusia karya Andar Ismail mengajak pembaca untuk belajar dari kehidupan manusia, memanusiakan dan dimanusiakan, serta bertumbuh dalam kualitas kemanusiaan. 

Kepedulian dimulai ketika kita memilih untuk melihat sesama sebagai manusia.

Temukan buku Selamat Memanusia melalui online maupun offline store BPK Gunung Mulia. 

Kembali ke blog

2 komentar

Yes.. setuju buku selamat memanusiakan dimulai dari diri kita sendiri dan belajar memanusiakan manusia…

Helen Runtuwene

Yes.. setuju buku selamat memanusiakan dimulai dari diri kita sendiri dan belajar memanusiakan manusia…

Helen Runtuwene

Tulis komentar