Ketika Kepedulian Menjadi Sebuah Tindakan

Ketika Kepedulian Menjadi Sebuah Tindakan

Kepedulian sering kali dimulai dari sesuatu yang sederhana. Melihat seseorang membutuhkan bantuan, mendengarkan cerita mereka, atau sekedar bertanya “apa yang bisa saya bantu?’’. Namun kepedulian tidak berhenti pada rasa iba. Kepedulian menjadi berarti ketika diwujudkan dalam sebuah tindakan.

Bertepatan dengan Hari Palang Merah Indonesia (PMI) yang diperingati setiap tanggal 3 September, menjadi momentum untuk mengenang sejarah terbentuknya organisasi kepalangmerahan nasional sekaligus meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap aksi kemanusiaan. Perintah tesebut dikeluarkan tidak lama setelah Indonesia memproklamasikan Kemerdekaan. Langkah itu menjadi salah satu upaya pemerintah dalam membangun pelayanan kemanusiaan bagi masyarakat Indonesia yang saat itu masih menghadapi berbagai persoalan pascakemerdekaan.  PMI selama ini hadir dalam berbagai pelayanan sosial dan kemanusiaan, termasuk membantu memenuhi kebutuhan darah serta memberikan dukungan bagi masyarakat yang membutuhkan.

Dari Peduli Menjadi Berarti

Tidak semua bentuk kepedulian harus dilakukan dalam skala besar. Menolong seseorang yang sedang kesulitan, menjadi pendengar bagi teman yang sedang menghadapi masalah, berbagi kepada mereka yang membutuhkan, atau meluangkan waktu untuk hadir bagi orang lain juga merupakan bentuk kepedulian.

Sering kali kita berpikir bahwa untuk membantu orang lain, kita harus memiliki seuatu yang besar untuk diberikan. Padahal, yang dibutuhkan terkadang hanyalah kemauan untuk melihat keadaan di sekitar untuk mengambil langkah kecil. Satu tindakan sederhana mungkin terlihat kecil bagi kita. Namun, bagi seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan, tindakan tersebut bisa melihat arti yang jauh lebih besar.

Kasih yang Tidak Berhenti pada Kata-Kata

Dalam 1 Yohanes 3: 18, kita diingatkan:

Ayat ini mengajak kita untuk melihat kembali arti kasih. Kasih bukan hanya sesuatu yang diucapkan, tetapi juga sesuatu yang dilakukan. Mengatakan bahwa kita peduli tentu mudah. Namun, menunjukkan kepedulian melalui tindakan membutuhkan keberanian untuk keluar dari zona nyaman diri sendiri. Mungkin kita tidak dapat menyelesaikan semua persoalan yang ada di sekitar kita. Namun, kita selalu dapat memilih untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan kita. 

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam buku Menolog Sesama, Meruntuhkan Prasangka, Menjadi Manusia, yang diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia. Buku ini merupakan kumpulan tulisan mengenai Etika dan Teologi Perjanjian baru yang mengangkat dua tema utama menolong sesama dan meruntuhkan prasangka. Buku ini mengajak pembaca untuk melihat tindakan menolong sebagai bagian dari kehidupan yang etis dan bertanggung jawab. Melalui berbagai tulisan, buku ini membahas keberanian untuk menolong sesama sekaligus mengajak kita menyadari prasangka yang dapat memengaruhi cara kita melihat dan memperlakukan orang lain. 

Buku Menolong Sesama, Meruntuhkan Prasangka, Menjadi Manusia.

Penyunting: August Corneles Tamawiwy

Tertarik mendalami bagaimana iman, etika, dan kepedulian kepada sesama dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari? 

Temukan buku Menolong Sesama, Meruntuhkan Prasangka, Menjadi Manusia melalui online store BPK Gunung Mulia atau kunjungi offline store BPK Gunung Mulia. 

Kembali ke blog

Tulis komentar