Sudahkah kita belajar menerima?
Share
Memberi, Juga Menerima: Belajar Melihat Kebaikan dari Dua Arah
“Lebih berbahagia memberi daripada menerima”. Ayat ini mungkin sudah sangat familiar bagi banyak orang Kristen. Memberi sering kali dipandang sebagai salah satu bentuk nyata dari kasih, seperti memberikan waktu, perhatian, tenaga, kemampuan, bahkan apa yang kita miliki kepada orang lain.
Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan berpikir tentang sisi lainnya-menerima?
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin lebih nyaman berada di posisi orang yang memberi. Ketika melihat seseorang membutuhkan bantuan, kita ingin menjadi orang yang menolong. Ketika memiliki sesuatu yang bisa dibagikan, kita terdorong untuk membagikannya. Ada kepuasaan tersendiri ketika mengetahui bahwa sesuatu yang kita lakukan dapat menjadi berkat bagi orang lain. Tetapi, ternyata menerima juga membutuhkan kerendahan hati.
Ketika Memberi Menjadi Fokus Utama
Alkitab memang banyak berbicara tentang panggilan untuk memberi. Dalam 2 Korintus 9:7, Paulus mengingatkan bahwa Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Memberi bukan sekedar tindakan memberikan sesuatu, melainkan bagian dari kehidupan orang percaya yang dipanggil untuk megasihi sesama.
Namun, dalam kehidupan beriman, memberi dan menerima sebenarnya tidak dapat dipisahkan. Untuk dapat memberikan diri, waktu, perhatian, maupun talenta dengan orang lain, kita pun menyadari bahwa kita terlebih dahulu telah menerima.
Kita menerima kasih, pertolongan, penghiburan, kesempatan, dan berbagai karunia dari Tuhan. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, ada begitu banyak hal yang kita terima melalui orang-orang di sekitar kita.
Menerima juga merupakan bentuk kerendahan hati.
Belajar Menerima Kebaikan Orang Lain
Kita sering lebih nyaman memberi daripada menerima. Padahal, menerima juga membutuhkan kerendahan hati. Ketika menerima bantuan dan kebaikan orang lain, kita memberi mereka kesempatan untuk menjadi berkat bagi kita.
Seperti para murid yang diutus Yesus, mereka juga belajar bergantung pada kebaikan orang-orang yang mereka jumpai. Ini mengingatkan kita bahwa dalam perjalanan iman, kita tidak selalu harus menjadi orang yang memberi. Ada kalanya kita juga perlu belajar menerima.
Memberi dan Menerima dalam Perjalanan Iman
Dalam perjalanan iman, ada saat ketika kita memiliki banyak hal untuk dibagikan, tetapi ada pula saat ketika kita membutuhkan dukungan dari orang lain.
Ada waktunya memberi, ada waktunya menerima. Keduanya merupakan bagian dari pertumbuhan iman. Ketika memberi, kita belajar mengasihi dengan tulus. Ketika menerima, kita belajar rendah hati dan menyadari bahwa kita tidak berjalan sendirian.
Pada akhirnya, menjadi berkat bukan hanya tentang apa yang dapat kita berikan, tetapi juga tentang kesediaan kita untuk menerima kasih dan kebaikan Tuhan melalui orang-orang di sekitar kita.
Temukan Refleksi Selengkapnya
Refleksi tentang memberi dan menerima ini dapat ditemukan dalam buku Saat Teduh Edisi September-Oktober 2026, terbitan The Upper Room yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh BPK Gunung Mulia.
Saat Teduh Edisi September-Oktober 2026 sudah dapat dibeli melalui website BPK Gunung Mulia, official online store BPK Gunung Mulia atau datang langsung ke toko buku BPK Gunung Mulia.
Luangkan waktu untuk berhenti sejenak, merenung, dan menikmati waktu bersama Tuhan.